https://tcrjournal.com/index.php/tcrj/issue/feedJurnal Sains Teh dan Kina2026-11-04T07:54:48+07:00Dr. M. Khais Prayogaredaksijptk@gmail.comOpen Journal SystemsJurnal Sains Teh dan Kina, tea, cinchona commodities, agronomy, plant breeding, soil science, crop protection, postharvest technology, social economy, and related scienceshttps://tcrjournal.com/index.php/tcrj/article/view/224Strategi Perbaikan untuk Meminimalkan Kerusakan Teh Hitam Celup di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Kabupaten Bandung, Jawa Barat2026-11-04T07:54:44+07:00Najma Aulia Farasgalinajmaauliaf@gmail.comErnahahmad.g.ardiansyah@gmail.comGema Wibawa Muktigema.wibawa@unpad.ac.idTuti Karyaniahmad.g.ardiansyah@gmail.comSotya Tresna Anggitasotyaanggita@gmail.com<p><span lang="EN-US">Perumusah strategi merupakan langkah penting bagi perusahaan untuk mencapai daya saing industri. Proses ini memerlukan pemahaman mendalam terhadap faktor internal dan eksternal agar strategi yang diterapkan tepat sasaran. Analisis SWOT (<em>Strengths, Weakness, Opportunities, Threats)</em> menjadi dalah satu metode yang dapat digunakan untuk menyusun strategi perbaikan. Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) sebagai produsen Teh Hitam Celup masih menghadapi permasalahan kerusakan produk dalam proses produksinya. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatam, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi PPTK terkait pengendalian kualitas. Hasil analisis menunjukkan beberapa alternatif strategi. Strategi SO dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang kompeten untuk menangkap peluang pasar. Strategi WO berupa pergantian mesin menjadi otomatis guna mendukung pemenuhan standar mutu dan sertifikasi. Strategi ST dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku dari kebun sendiri sehingga pengawasan kualitas lebih terjamin. Sementara itu, strategi WT berupa perbaikan menajemen internal untuk menghadapi regulasi kualitas dan keamanan pangan yang semakin ketat. Penerapan strategi tersebut memberikan arahan pengembangan bagi PPTK untuk meminimalkan kerusakan produk, meningkatkan efisiensi proses produksi, serta memperkuat daya saing di pasar teh.</span></p>2026-11-03T13:56:20+07:00Copyright (c) 2026 Najma Aulia Farasgali, Ernah, Gema Wibawa Mukti, Tuti Karyani, Sotya Tresna Anggitahttps://tcrjournal.com/index.php/tcrj/article/view/243Pola Kemitraan Usahatani Teh di Lahan Perkebunan dan Kehutanan2026-11-04T07:54:46+07:00Dwi Wahyuningsihdwiwahyuningsih225@student.uns.ac.idKralawi Sitakralawi.sita@gmail.com<p><em>Tea is a strategic plantation commodity in Indonesia whose management increasingly involves partnership arrangements between farmers and land management institutions to support sustainable land utilization. Differences in land status between plantation and forest areas are assumed to influence the form and mechanisms of partnerships implemented. This study aimed to analyze and compare tea farming partnership patterns across these two land functions. A qualitative descriptive approach with a comparative study design was conducted in the PPTK PT RPN plantation area and the PT Perhutani forest partnership area in Bandung Regency, West Java. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and documentation, and analyzed using an interactive qualitative analysis model. The results indicate that partnerships on plantation land have developed into a more structured contract farming system characterized by technical support and greater management flexibility. In contrast, partnerships on forest land have evolved through long-term profit-sharing arrangements regulated by forestry policies, emphasizing ecological sustainability. These findings demonstrate that land status and function play an important role in shaping institutional structures and management orientations in tea farming partnerships.</em></p>2026-11-03T13:58:18+07:00Copyright (c) 2026 Dwi Wahyuningsih, Kralawi Sitahttps://tcrjournal.com/index.php/tcrj/article/view/256Laju Dekomposisi Awal Biomassa Seresah Pangkasan Teh Assamica (Camellia sinensis var. Assamica) 2026-11-04T07:54:46+07:00Kania Aliya Putri Zahranikania22001@mail.unpad.ac.idGina Nur'aini Buchorybuchorygina@gmail.com<p>Teh merupakan salah satu komoditas ekonomi penting di Indonesia yang dalam pengelolaannya dilakukan pemangkasan yang menghasilkan limbah pangkasan. Limbah pangkasan atau seresah pangkasan teh ini diketahui memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk tanah dan tanaman setelah melalui dekomposisi. Penelitian ini bertujuan untuk menduga laju dekomposisi limbah pemangkasan teh (daun, ranting, dan cabang) serta menganalisis faktor yang mempengaruhinya agar dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi tanah. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental di Pusat Penelitian Teh dan Kina menggunakan media buatan berupa galon berisi tanah untuk mereplikasi kondisi lapangan. Sampel limbah dimasukkan ke dalam <em>litterbag</em> dan diamati setiap minggu selama 28 hari untuk diukur kehilangan berat keringnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata laju dekomposisi tertinggi terjadi pada bagian cabang (-2,86 g/hari) dan terendah pada daun (-0,76 g/hari). Perubahan fisik pada daun lebih cepat teramati melalui penghancuran struktur menjadi serpihan kecil, sementara ranting dan cabang cenderung masih utuh karena kandungan lignin yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa perbedaan laju dekomposisi dapat dipengaruhi oleh karakteristik fisik dan kimia bahan organik, di mana kandungan lignin yang tinggi pada ranting dan cabang menghambat penguraian oleh mikroorganisme dibandingkan dengan daun.</p>2026-11-03T13:59:12+07:00Copyright (c) 2026 Kania Aliya Putri Zahrani, Gina Nur'aini Buchoryhttps://tcrjournal.com/index.php/tcrj/article/view/264Daya Saing Ekspor Kina Indonesia di Pasar Dunia Tahun 1995-20242026-11-04T07:54:47+07:00Teuku Faizul Amarburhansson@gmail.comDevira Putri Rahmaliadevira.putri0703@mail.ugm.ac.idKralawi Sitakralawi.sita@gmail.comArini Wahyu Utamiariniwu@ugm.ac.id<p>Kina (<em>Cinchona</em> sp.) merupakan komoditas perkebunan strategis dengan potensi pasar global yang besar. Pasar kina memiliki prospek yang menjanjikan, dengan pertumbuhan yang diperkirakan mencapai 5,2%–7,3% per tahun hingga 2034. Penelitian ini menganalisis daya saing ekspor kina Indonesia tahun 1995–2024 menggunakan metode MSI, HHI, ISP, RCA, ECI, dan EPD berdasarkan data sekunder dari Observatory of Economic Complexity (OEC) untuk komoditas HS 293920, 293921, dan 293929. Pangsa pasar Indonesia meningkat dari 5,39% menjadi 13,24% dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 6%. Pasar global tergolong cukup terkonsentrasi (rata-rata HHI 1.547) dengan tren meningkat. Indonesia mencatat ISP tertinggi namun menurun sejak 2008 akibat ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Indonesia berada di peringkat ketiga RCA namun ketujuh dalam ECI, mengindikasikan keunggulan komparatif yang kuat namun daya saing kompetitif yang terbatas pada produk bernilai tambah tinggi. Seluruh negara berada pada posisi Retreat dalam EPD akibat pergeseran global pengobatan malaria ke Artemisinin-based Combined Therapy. Indonesia perlu memprioritaskan diversifikasi produk hilir serta diikuti pengembangan hulu untuk memperkuat daya saing di pasar global.</p>2026-11-03T14:05:27+07:00Copyright (c) 2026 Teuku Faizul Amar, Devira Putri Rahmalia, Kralawi Sita, Arini Wahyu Utamihttps://tcrjournal.com/index.php/tcrj/article/view/265Karakterisasi dan Uji Toleransi Jamur Rizosfer Tanaman Teh (Camlelia sinensis) terhadap Herbisida Glifosat2026-11-04T07:54:47+07:00Tabina Quishabbaaibaii@gmail.comSumardiahmad.g.ardiansyah@gmail.comFani Fauziahfani_fauziah@ymail.comAhmad Ghozali Ardiansyahahmad.g.ardiansyah@gmail.comKusuma Handayaniahmad.g.ardiansyah@gmail.comElia Laila Rizqiyaheliarizqi12@gmail.com<p>Penyakt jamur akar putih yang disebabkan oleh <em>Rigidoporus microporus</em> menjadi salah satu kendala utama pada budidaya tanaman teh. Pemanfaatan jamur antagonis berpotensi menjadi alternatif pengendalian hayati yang ramah lingkungan, namun penggunaan herbisida glifosat diduga memengaruhi aktivitas mikroorganisme tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan antagonis jamur rizosfer tanaman teh serta toleransinya terhadap glifosat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Seluruh isolat hasil eksplorasi diuji antagonismenya terhadap <em>Rigidoporus microporus</em> dengan metode <em>dual culture</em>, kemudian tiga isolat terbaik diuji toleransinya terhadap glifosat pada konsentrasi 0,04%, 0,08%, dan 0,12% dalam 1 liter PDA. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Tukey taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan isolat PTS1-A3 memiliki daya hambat tertinggi sebesar 54,44%, sedangkan isolat PS2-A3 menunjukkan toleransi tertinggi terhadap glifosat dengan persentase penghambatan 41,87%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur rizosfer tanaman the berpotensi dikembangkan sebagai agens hayati yang adaptif terhadap penggunaan glifosat di perkebunan teh.</p>2026-11-03T14:06:07+07:00Copyright (c) 2026 Tabina Quisha, Sumardi, Fani Fauziah, Ahmad Ghozali Ardiansyah, Kusuma Handayani, Elia Laila Rizqiyah